PEMBUNUH BERDARAH DINGIN


kartun3 “Heyy…Jangan nak, itu bekas orang.” Mungkin itu yang akan kita ucapkan kalau kita melihat anak kita memakan makanan sembarangan dimeja atau dilantai. Namun dapatkah kita melarang anak kita,”Heyy, jangan nak, itu bekas oksigen orang”.

Ya, tanpa sadar memang kita terus melakukan tukar menukar oksigen dengan orang lain. Yaa, itung-itung joinan tukeran kuman lah. Mungkin sekaranglah saatnya kita mulai fikirkan lagi kebutuhan yang sangat primer ini.

Menurut EPA, itu loh agensi perlindungan lingkungan, bahwa polusi didalam ruangan 2 sampai 10 kali lebih bahaya daripada polusi diluar ruangan. Trus WHO juga menyatakan 2 juta orang didunia meninggal karena polusi udara dan 1,5 juta diantaranya karena polusi udara dalam ruangan.

Apa sih sebabnya?

• Sirkulasi udara yg buruk
Padatnya penduduk membuat perumahan sekarang berhimpitan dan kurang ventilasi.
Akibatnya debu, bakteri, jamur dan tungau (kutu debu-salah satu penyebab asma) bertumpuk.

• Pemakaian AC
Selain banyak menumpuk debu, AC juga membuat berkurangnya kadar oksigen dalam ruangan. Sebab pemakaian AC biasanya dilakukan diruang tertutup (tidak ada sirkulasi udara).

• Pemakaian bahan kimia
Di dalam rumah kita selalu menggunakan : pembersih kimia, peptisida, gypsum, wallpaper, cat, plitur, karpet, tirai. Semua bahan tersebut berpotensi mengakibatkan polusi udara karena menyimpan debu, bau menyengat, bahkan ada yg beracun.
Padahal 90% waktu kita dihabiskan dalam ruangan. Di kamar, di ruang keluarga, di kantor, bahkan dalam perjalanan pun di dalam ruangan mobil.

Sebenernya yang membuat polusi udara dalam ruangan berbahaya karena : tidak terlihat, tidak terdengar, tidak terasa, bahkan tidak tercium, jadi dianggap tidak ada masalah. Bahkan kita sering menerima informasi yang menyesatkan, spt misalnya ada salah satu obat nyamuk yang menggunakan wangi Lavender. Karena wangi kita menganggap tidak berbahaya, padahal judulnya tetap saja peptisida, beracun dan berbahaya bagi tubuh.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.