GO GREEN….GO…GO…GO

green_vacuumKonsep green building atau bangunan ramah lingkungan telah menjadi tren saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini diyakini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro. Sebetulnya sebelum istilah ini lahir, telah ada istilah intelligent building system (IBS), yang prinsipnya tidak berbeda jauh: efisiensi energi. Hanya saja prinsip dasar green building adalah memadukan bangunan (rumah, gedung) yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Pembangunan bangunan hemat energi dan ramah lingkungan harus murah, mudah, dan berdampak luas. Pengembangan kota hijau (green city), properti hijau (green property), bangunan hijau (green building), kantor/sekolah hijau (green school/office), hingga pemakaian produk hijau (green product) terus dilakukan untuk turut mengurangi pemanasan global dan krisis ekonomi global.

batikBangunan hijau mensyaratkan layout desain bangunan (10 persen), konsumsi dan pengelolaan air bersih (10 persen), pemenuhan energi listrik (30 persen), bahan bangunan (15 persen), kualitas udara dalam (20 persen), dan terobosan inovasi (teknologi, operasional) sebesar 15 persen.

Menurut standarisasi dari LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) sebuah standar baku dari Badan Green Building Amerika, sebuah bangunan haruslah mengandung beberapa criteria yang masing-masingnya mengandung nilai tertentu:

Sustainable Sites 14, Water Effi ciency 5, Energy & Atmosphere 17, Materials & Resources 13, Indoor Environmental Quality 15, Innovation & Design Process 5
Total 69
Dari poin tersebut diatas, maka akan di kelas-kelaskan mutu bangunan merujuk pada konsep green building.
Platinum 52 – 69 points, Gold 39 – 51 points , Silver 33 – 38 points, Certified 26 – 32 points.

Di Indonesia sendiri, telah terbentuk sebuah badan serupa yaitu Green Building Council of Indonesia, badan ini nantinya akan mengeluarkan indikator-indikator resmi penilaian apakah bangunan tersebut green atau tidak. badan ini juga yang nantinya berhak mengeluarkan sertifikat green building.

kenapa perlu GBCI? kenapa tidak mengacu pada LEED saja, atau WGBC, atau Holcim Sustainable assestment? semua assestment tadi lahir bukan di Indonesia. seperti yang disebutkan di awal, Konsep green building harus lahir sesuai dengan konteks tempat. oleh karena itu, assestment2 yang ada saat ini perlu sekian banyak revisi guna sesuai dengan konteks indonesia, oleh karena itulah GBCI dibentuk untuk membahasnya.

Camkan bahwa Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, tapi kita meminjam dari anak cucu kita!! Maka mari kita rawat lingkungan kita dengan sebaik-baiknya. Yuk…Mariii……. (dari berbagai sumber)
green-up-air-qualitydar

1 Comment

  1. Kelvin Djajalaksana said,

    August 21, 2010 at 11:12 am

    Salam kenal.

    nama saya Kelvin, mahasiswa saah satu PTS di Jakarta, saya akan melakukan penelitian ttg grren building. saya mau tanya, apa ada sumber yg lebih jelas mengenai tingkatan point masing-masing kelas?
    mohon bantuannya.
    trims.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.